Sindiran Jokowi untuk Politikus, dari ‘Sontoloyo’ hingga ‘Genderuwo’

0
12 views

Sindiran Jokowi untuk Politikus, dari ‘Sontoloyo’ hingga ‘Genderuwo’

Majunkri – Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali memperkenalkan istilah baru untuk menyindir politikus dengan sebutan ‘genderuwo’ usai menggunakan sebutan ‘politikus sontoloyo’.

Hal itu disampaikan Jokowi saat membagikan 3.000 sertifikat tanah di GOR Tri Sanja, Kabupaten Tegal, Jumat (9/11/2018).

Dikutip dari Kontan.co.id, ‘politik genderuwo’ yang dimaksud Jokowi ditujukan kepada politikus yang kerap menyebarkan propaganda yang menakut-nakuti masyarakat.

Menurut Jokowi, di tahun politik saat ini, banyak politikus yang pandai memengaruhi.

“Yang tidak pakai etika politik yang baik. Tidak pakai sopan santun politik yang baik. Coba kita lihat politik dengan propaganda menakutkan, membuat ketakutan, kekhawatiran,” kata Jokowi.

Tak hanya itu, setelah ditakut-takuti politikus itu kerap membuat sebuah ketidakpastian dan menggiring masyarakat yang tidak benar serta ragu-ragu.

“Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masak masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Enggak benar kan? itu sering saya sampaikan itu namanya politik genderuwo, nakut-nakuti,” tambah Jokowi.

“Jangan sampai seperti itu. Masyarakat ini senang-senang saja kok ditakut-takuti. Iya tidak? Masyarakat senang-senang kok diberi propaganda ketakutan. Berbahaya sekali,” lanjut dia.

Sehingga, ia menilai jangan sampai propaganda ketakutan menciptakan suasana ketidakpastian, menciptakan munculnya keragu-raguan.

Apalagi, ia menilai aset terbesar bangsa ini adalah persatuan, persaudaraan, kerukunan.

Jangan sampai rugi besar kita ini, karena pas setiap lima tahun itu ada pilihan bupati, gubernur, wali kota ada terus. Jangan sampai (pecah) seperti itu,” katanya.

Penjelasan Jokowi soal ‘Politik Genderuwo’

Jokowi menegaskan agar politisi menghentikan berpolitik layaknya genderuwo yang menakut-nakuti rakyat.

Sebab, di tahun politik saat ini diharapkan politik yang penuh dengan kegembiraan.

“Pesta demokrasi mestinya penuh dengan kegembiraan, penuh dengan kesenangan,” kata Presiden kepada wartawan usai meresmikan tol di Kabupaten Tegal, Jumat (9/11) dikutip dari Kontan.co.id.

Apalagi, masyarakat kini sudah sangat matang dalam berpolitik, memberikan suara dengan memilih secara jernih dan rasional.

Sehingga, politikus harus mengarahkan kematangan dan kedewasaan berpolitik. Bukan dengan cara-cara berpolitik dengan propaganda yang menakut-nakuti, menimbulkan kekhawatiran, ketidakpastian, dan keragu-raguan masyarakat.

“Ini cara-cara berpolitik yang tidak beretika seperti ini jangan diterus-teruskan. Setop, setop!” tambah Presiden.

Tapi sayangnya, dirinya enggan membocorkan untuk siapa sindiran itu ia tujukan.

Enggak, saya sampaikan itu politikus genderuwo, ya dicari saja politikusnya,” tegas dia.

Tapi secara prinsip, Jokowi kembali menegaskan agar para politikus hijrah dari ujaran kebencian kepada ujaran kebenaran, hijrah dari pesimisme kepada optimisme, hijrah dari kegaduhan ke kerukunan dan persatuan.

Politik Sontoloyo

Sebelumnya, Jokowi juga memperkenalkan istilah ‘Politikus Sontoloyo’

Jokowi mengaku jengkel terhadap politikus yang mengadu domba, fitnah, dan memecah belah untuk meraih kekuasaan.

Ia mengatakan, karena jengkelnya, saat acara pembagian 5.000 sertifikat lahan di Lapangan Sepakbola Ahmad Yani, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (23/10/2018), keluarlah pernyataan ‘Politikus Sontoloyo’.

Istilah itu ia gunakan untuk menyebutkan politisi yang melakukan praktik seperti yang ia sebutkan.

Dilansir dari Kompas.com, alasan itu diungkap Jokowi saat menerima pimpinan gereja dan rektor/ketua perguruan tinggi Kristen seluruh Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Rabu (24/10/2018).

“Sebetulnya ini dimulai dari urusan politik, yang sebetulnya setiap lima tahun pasti ada. Dipakailah yang namanya cara-cara politik yang tidak beradab, yang tidak beretika, yang tidak bertata krama Indonesia.”

“Cara-cara politik adu domba, cara-cara politik yang memfitnah, cara- cara politik yang memecah belah hanya untuk merebut sebuah kursi, sebuah kekuasaan, menghalalkan segala cara,” ujar Jokowi.

Makanya saya sampaikan, politikus sontoloyo, ya itu, jengkel saya,” lanjut dia.

Jokowi mengaku, selama ini ia menahan diri untuk tak mengeluarkan pernyataan seperti itu.

“Makanya saya sampaikan, politikus sontoloyo, ya itu, jengkel saya,” lanjut dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here