Penguasaan Bahasa Inggris, Kunci Penting Menangi Persaingan Kerja di Era Industry 4.0

0
24 views

Penguasaan Bahasa Inggris, Kunci Penting Menangi Persaingan Kerja di Era Industry 4.0

Majunkri – Memiliki karir gemilang jadi idaman siapa saja terutama kalangan milenial dan anak muda. Tapi seiring dengan berkembangnya teknologi, untuk meraih karir gemilang tak lagi cukup hanya dengan kerja keras.

Revolusi Industri 4.0 yang pertama kali dikenalkan di Jerman tahun 2011 telah membawa banyak perubahan yang sekaligus menjadi momentum penerapan ekonomi digital.

Secara keseluruhan ada tiga pondasi untuk menopang Industry 4.0. Yakni, Internet of Things, Artificial Intelligence dan Human-Machine Interface.

Di era Industy 4.0, selain kerja keras, angkatan kerja juga diharapkan melek teknologi dan fasih berbahasa Inggris mengingat bahasa ini telah ditetapkan sebagai bahasa internasional, bahasa bisnis dan bahasa teknologi.

Praktisi Human Resource yang kini bekerja di salah satu fintech company di Indonesia, Krisna Parapat, mengatakan, meski tidak berdampak langsung ke pendapatan, kemampuan berbahasa Inggris yang baik dapat memudahkan para angkatan kerja untuk meniti karir lebih gemilang di era Industry 4.0.

Lewat kemampuan ini mereka juga bisa meraih lebih banyak peluang karir di perusahaan multinasional dan startup.

Bahas Inggris saat ini digunakan oleh 1.75 miliar orang di seluruh dunia. Selain itu, juga kini makin banyak multinational company menggunakan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi utama dalam menjalankan bisnis demi membangun komunikasi yang kuat antar tim di berbagai negara.

Jika kemampuan berbahasa Inggris tidak memadai, milenial akan sulit bersaing di peta persaingan kerja,

Indonesia Chief Representative Officer for nexgen English online. Co, Artnandia Priaji mencontohkan Hiroshi Mikitani, CEO Rakuten, perusahaan online market place terbesar di Jepang, Rakuten.

“Dalam satu malam Hiroshi Mikitani menerapakan bahasa Inggris dalam komunikasi sehari-hari dan memaksa para karyawannya untuk belajar bahasa Inggris. Saat itu media menilainya keputusannya adalah hal yang bodoh. Namun keputusan itu membuat perusahaannya semakin kuat dengan tim yang beraneka ragam,” ungkap Artnandia Priaji.

Artnandia Priaji menambahkan, hadirnya Neo Study di Indonesia merupakan salah satu itikad baik untuk membantu para angkatan kerja Indonesia agar memiliki kompetensi baik dalam berbahasa Inggris.

“Neo Study memberikan kemudahan untuk belajar bahasa Inggris tanpa mengorbankan waktu dan tenaga karena bisa digunakan kapanpun dan dimanapun tanpa mengurangi kualitas pembelajaran,” ujarnya.

Selain itu, Neo Study juga menawarkan beberapa fitur yaitu kecerdasan buatan (AI) yang mampu menganalisa prilaku dan data pengguna agar kualitas konten pembelajaran tetap relevan bagi kemampuan pengguna.

Fitur penting lainnya adalah fitur pengenal suara canggih (Advanced Speech Recogition) bertujuan untuk melatih kemampuan dan keakuratan pengucapan dalam bahasa Inggris, dan bila para pengguna ingin diajar langsung oleh native speaker maka mereka dapat menggunakan fitur Neo Live.

Dia menambahkan, pada dasarnya, kesempatan untuk mengembangkan karir selalu terbuka. Tapi memang harus ada upaya lebih untuk menembusnya, salah satunya dengan cakap berbahasa Inggris.

“Hadirnya Neo Study di Indonesia memberikan sebuah solusi bagi angkatan kerja untuk mempersenjatai diri dengan kemampuan berbahasa Inggris agar dapat memanjat karir demi masa depan yang lebih baik,” lanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here