Kisah Pilu Anak Rahasia Bung Karno, Pernah Jualan Es, Jadi Kondektur Hingga Dituntut Tes DNA

0
91 views

Kisah Pilu Anak Rahasia Bung Karno, Pernah Jualan Es, Jadi Kondektur Hingga Dituntut Tes DNA

Majunkri – Tak banyak diketahui orang ternyata Presiden pertama, Ir Soekarno memiliki putra yang bernama Gempar Soekarno Putra.

Gempar lahir dari pernikahan Soekarno dengan wanita yang bernama Jetje Langelo.

Keduanya menikah sekitar 50 tahun yang lalu, yaitu pada 1957 di Manado.

Dikutip dari Tribun Jabar seperti yang diberitakan di Intisari, Gempar pada mulanya bernama Charles Christofel sebelum dia mengetahui ternyata dia adalah putra Soekarno.

Sebab, sang ibu memang tidak memberitahunya pada awalnya.

Charles menjalani masa kecil yang serba susah.

Dititipkan di rumah seorang saudara Jetje, Charles diperlakukan buruk bahkan seperti pembantu.

Untuk mendapatkan uang dia bahkan berjualan es untuk mendapatkan uang dan saat usianya beranjak remaja, dia menjadi kondektur bus untuk menyambung hidupnya.

Setelah lulus SMA dengan nilai yang cukup gemilang, Charles pindah ke Jakarta dan tinggal di rumah keluarga ibunya.

Namun, dia masih saja mendapatkan perlakukan kasar sehingga membuat hidupnya tak menentu dan berpindah-pindah.

Hingga akhirnya dia bekerja menjadi tukang ketik di kantor notaris Fredrik Alexander Tumbuan.

Sebagai mahasiswa yang kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), Charles menjadi satu diantara mahasiswa yang melakukan aksi menuntut Soeharto lengser dari presiden.

Hal itu membuat ibunya gundah dan memintanya untuk pulang ke Manado.

Namun, setahun kemudian, dia baru pulang ke Manado.

Di dinding rumah ibunya terpasang foto-foto saat ibunya masih muda dan tampak akrab dengan pria yang dikenalnya sebagai Soekarno.

Saat itulah, sang ibu memberitahunya hal yang tak pernah dia sangka dan sejak saat itu hidupnya berubah.

“Kamu adalah anak Soekarno,” begitu kata-kata Jetje padanta

Sang ibu mengatakan, rahasia itu sengaja disembunyikan atas amanat Soekarno yang ingin anaknya diamankan jika sewaktu-waktu kekuasaannya jatuh.

Dia juga menunjukkan beberapa barang peninggalkan Soekarno yang disembunyikannya.

Yaitu, foto, surat, tongkat komando, keris, serta amanat yang ditulis oleh Seokarno.

Dalam amanat tertulis itu, Soekarno meminta anaknya yang lahir pada 13 Januari 1958 tersebut pada saar dewasa dinamai Muhammad Fatahillah Gempar Soekarno Putra.

“Kutitipkan bangsa dan negara kepadanya!”

Cerita tentang dirinya itu didapatkannya dari ibunya, Jetje sebelum meninggal mpada 2004.

Gempar menceritakan, Jetje mengenal Soekarno pada 1952 saat berkunjung ke Manado.

Namun, pada awalnya orang tua jetje tak merestui hubungan mereka.

Setelah lulus sekolah SGA Roma Katolik, Jetje dinikahkan dengan Leo Nico Christofel, anggota TNI berpangkat Letnan Satu.

Meski sudah memiliki 2 anak, keduanya bercerai.

Hubungan Soekarno dan Jetje kembali berlanjut.

Mereka menikah pada 1957 di Manado.

Pernikahan keduanya sempat dirayakan di Jakarta, tetapi kemudian Jetje kembali ke Manado.

Setelah kelahiran Gempar Jetje berniat menyusul suaminya, tetapi batal karena ada pemberontakan Permesta.

Seokarno baru dapat menggendong anaknya pada 1960 untuk yang pertama dan terakhir kalinya.

Gempat mengungkapkan ada beberapa pejabat yang mengetahui pernikahan ibunya dengan Soekarno.

Mereka adalah Mayor Sugandi (ajudan Presiden), Henk Ngantung (Gubernur Jakarta), Ibnu Sutowo (kemudian menjadi Dirut Pertamina), atau Ali Sadikin.

Selain itu, saat kecil Gempar mengungkapkan, teman-teman sekolahnya mengatakan dia mirip Soekarno.

Kehidupan Gempar mulai berubah setelah dia tahu.

Dia memgunjungi makam Soekarno dan memutuskan memeluk agama Islam.

Dia menjadi sosok yang disorot pada tahun 2000-an.

Gempar pun membenarkan kisah itu kepada Intisasi.

Pengacara Guruh Soekarno Putra juga memintanya untuk melakukan tes DNA.

Dia tak menolak, tetapi mengajukan beberapa syarat, yaitu dia meminta tes tersebut bukan permintaan darinya dan dilakukan secara terbuka.

Sampel darahnya harus diambil dan dikawal oleh tim kedokteran Fakultas Kedokteran UI.

Namun, permintaan itu hingga kini tidak ada kabarnya.

“Biar jelas kalau bukan saya yang mencari popularitas. Kalau pun hasilnya benar, ya alhamdulillah. Kalau tidak berarti ibu saya pembohong,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here